
Vandalisme di Tubuh Para Petani
coba bayangkan dinding itu meleleh;
di antara pelangitan para penduduk desa
yang keringatnya dijarah para pemimpin(n).
vandalisme cita-cita yang dicorat-coret;
morat-marit; kalang-kabut; di dinding itu
bersih sebab gerak-gerik yang mondar-mandir
antara rumah-rumah para petani.
mewah dulu uangnya membangun itu,
roboh pula uang yang lain.
suplai pengharum bunga padi, daun karet, akar palawija, dan kopi
habis terlindas kuda besi.
bayangkan saja,
esok tubuh yang dilindas mati.
Dia Bukan Langit
hamparan biru dan kuning yang dikunyah awan itu,
hanyalah fatamorgana.
di sanalah doa petani sering mandek,
dimamah olehnya untuk sampai ke tuhan
dimuntahkan dalam bentuk hujan.
yang olehnya,
jalan mereka tergenang,
menghalau pupuk, obat, serta tekad.
aku terbang di antara dan bumi,
menilik sawah yang kian sepi.
menatap rawa-rawa kering;
tiada kehijauan, kecuali sesawitan.
manusia di sana,
menatap langit dengan penuh doa.
menitip harap kepada sang mahaada,
meskipun cakrawala itu
adalah seorang pendusta.
Daftar Isi Harapan Petani
untuk pemimpin:
1.
pupuk lancar.
2.
harga modal dan jual stabil.
3.
akses mudah.
4.
dihargai.
untuk tuhan:
1.
cuaca mendukung.
2.
cuaca mendukung.
3.
cuaca mendukung lagi.
yang terwujud.
1.
ucapan dari pemimpin,
“semoga tuhan mendukung.”
Rebung Santan di Firdaus Tuhan
kalau saja esok kiamat,
kami-kami bisa tertawa.
dihidang rebung surga firdaus
dengan bumbu sederhana
dan santan yang tidak pecah.
dimasak di atas kuali tanah—yang satu di antaranya—dari tanah kering Pulau Borneo, liat basah tanah Flores, atau gambut-gambut di Andalas.
kalau-kalau masuk neraka,
kami akan terus tertawa.
h; h: h, h.
Bagikan Postingan ini










Tinggalkan Balasan