Rendy Tisna: Loyalitas Utama Jurnalis kepada Warga   
| Memuat… | Memuat…

J ika ada tiga orang berjiwa jurnalis sejati di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, salah satunya adalah Rendy Tisna. Kau bisa melupakan dua sisanya. Ia terjun ke dunia media pada 2017, di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sulit, setelah melamar lewat sebuah pamflet lowongan kerja media lokal di media sosial.

Selama berkecimpung di dunia jurnalistik, ia sudah menelurkan banyak sekali karya. Beberapa laporan jurnalistiknya termuat dalam buku “MINORITAS: Karpet Merah untuk Tambang, Jalan Sunyi untuk Rakyat” yang akan diterbitkan Penerbit Arkalitera tahun ini.

Saya, Musa Bastara (MB), berkesempatan berbincang-bincang via chat dengan Rendy Tisna (RT) dan melontarkan 12 pertanyaan saat tengah malam. Rendy lalu bercerita dan bercerita.

MB: Buku ini berisi reportase yang tidak selesai dalam satu-dua hari. Sebenarnya, berapa banyak waktu yang kamu habiskan untuk mengerjakan buku ini?

RT: Rata-rata, satu berita membutuhkan waktu sekitar tiga bulan, bahkan dalam beberapa kasus lebih panjang. Bukan karena sengaja memperlama proses. Ada banyak tahapan dalam membuat berita yang sesungguhnya dikerjakan wartawan, namun tidak terlihat pembaca.

Sebuah cerita tidak serta-merta menjadi berita hanya karena seorang wartawan datang ke lokasi, mewawancarai narasumber, mengambil gambar, lalu pulang dan menulis. Bagi saya, itu lebih menyerupai tugas seorang pelancong: datang, melihat, mencatat, kemudian pergi.

Liputan mendalam bekerja dengan cara yang berbeda. Prosesnya bisa dimulai jauh sebelum kaki menginjak lokasi liputan. Saya biasanya memulainya dengan riset, mulai dari menelusuri data di internet, membaca dokumen, mencari arsip hingga mengunjungi perpustakaan.

Dari sana, saya mencoba memahami persoalan yang hendak diliput, siapa saja yang terlibat, dan bagaimana konteks persoalannya.

Setelah itu, medan juga harus dipetakan. Saya perlu mengetahui lokasi, akses menuju desa, kondisi jalan, titik-titik yang sulit dijangkau, hingga jalur evakuasi apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Semua itu menjadi bagian dari persiapan sebelum ke lapangan.

Namun, dari seluruh proses membuat berita, ada satu hal yang menurut saya paling penting dan sering kali membutuhkan waktu yaitu membangun kepercayaan.

Terutama ketika yang saya datangi adalah masyarakat yang selama bertahun-tahun merasa sudah lama berhadapan dengan kepentingan perusahaan, kekuasaan. Mereka tentu tidak serta-merta membuka kehidupan kepada seseorang yang baru dikenal.

Di Kotabaru misalnya. Pada awalnya, warga sangat acuh ketika saya menghubungi mereka. Pesan tidak berbalas. Mereka tidak mudah percaya kepada orang luar yang belum mereka kenal. Proteksinya sangat kuat.

Apalagi saya mendapat kabar bahwa sebelumnya pernah ada wartawan dari media terkenal di Banjarmasin yang datang ke Desa Bekambit, tetapi justru diusir dan dicaci maki oleh narasumber warga. Padahal secara geografis, wartawan tersebut sebenarnya orang pribumi, tinggal tidak jauh dari mereka, bahkan masih berada dalam satu kecamatan.

Artinya, kedekatan geografis tidak otomatis melahirkan kepercayaan. Cara kita mendekati manusia jauh lebih menentukan. Karena itu, biasanya saya mencoba memahami latar belakang orang-orang yang saya temui satu per satu terlebih dahulu.

Salah satu narasumbernya Suhermanto. Setelah menggali latar belakangnya, saya mengetahui bahwa ia merupakan lulusan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, kampus yang sama dengan tempat saya kuliah pada 2009.

Dari titik kecil itu, percakapan menjadi lebih cair. Ada kesamaan pengalaman yang membuat jarak perlahan hilang. Dari sana, kepercayaan mulai tumbuh.

Setelah kepercayaan terbentuk, proses pekerjaan jurnalistik pun menjadi lebih dalam. Di Bekambit, saya bahkan tinggal hampir satu minggu. Saya diberi kesempatan untuk melihat kehidupan warga dari dekat, mengikuti keseharian mereka, dan memahami bagaimana mereka menjalani hidup di tengah tanah yang mereka anggap telah dikuasai oleh kepentingan perusahaan.

Bagi saya, tinggal bersama warga jauh lebih penting daripada sekadar datang selama beberapa jam. Sebab ketika kita hanya datang sebentar, yang terlihat sering kali hanya permukaan.

Saya mengibaratkannya seperti naik kereta yang sedang melaju. Dari dalam kereta, kita mungkin melihat gunung yang indah, rumah-rumah yang berjejer di sepanjang rel, atau orang-orang yang berdiri di halaman.

Tetapi kita hanya melihat pelataran dan tampak muka. Kita tidak pernah benar-benar tahu berapa orang yang tinggal di dalam rumah itu, bagaimana kehidupan mereka, apa yang mereka takutkan, dan apa yang sebenarnya mereka perjuangkan. Itulah yang saya cari dalam setiap liputan, masuk sedikit lebih dalam dari apa yang terlihat.

Dan proses untuk menjadikan temuan di lapangan sebagai sebuah berita belum selesai ketika saya meninggalkan lokasi.

Setelah liputan lapangan selesai, saya masih melakukan riset lanjutan selama sekitar satu bulan. Informasi yang diperoleh harus dicocokkan kembali. Dokumen dibaca, data ditelusuri, temuan disusun, kemudian semuanya ditulis.

Setelah tulisan selesai pun, pekerjaan belum benar-benar berakhir. Saya masih harus melakukan konfirmasi kembali kepada narasumber, satu per satu.

Ada informasi yang harus diperiksa berulang kali agar tidak keliru. Ada narasumber yang perlu ditemui atau dihubungi kembali hanya untuk memastikan satu kalimat dalam tulisan benar-benar sesuai dengan apa yang mereka maksud.

Bagi saya, proses itulah yang membuat sebuah cerita dari lapangan akhirnya bisa menjadi sebuah berita yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sampai sekarang saya masih berkomunikasi dengan mereka. Ketika pernyataan ini saya buat, pada Minggu malam seorang warga Kotabaru baru saja menelpon saya untuk bertukar pendapat. Hal serupa juga terjadi dengan sejumlah narasumber dari Rantau Bakula, Kabupaten Banjar, dan beberapa lokasi lainnya.

Bagi saya, hubungan itu penting. Narasumber bukan sekadar sumber informasi yang kita datangi ketika membutuhkan bahan berita, lalu ditinggalkan setelah berita terbit.

Saya memang enggan mengerjakan berita secara terburu-buru hanya karena seolah-olah semua berita harus selesai secepat mungkin.

Saya percaya, ada cerita yang memang membutuhkan waktu untuk ditemukan. Ada narasumber yang membutuhkan waktu untuk percaya. Ada fakta yang membutuhkan waktu untuk diverifikasi. Dan ada tulisan yang membutuhkan waktu agar benar-benar matang sebelum sampai kepada pembaca.

Saya percaya, berita yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, sabar, dan bertanggung jawab pada akhirnya akan menemukan pembacanya sendiri.

MB: Ada satu hal yang menarik: kamu rela menghabiskan waktu untuk satu laporan panjang. Apa yang membuatmu merasa sebuah cerita memang layak dikejar selama itu?

RT: Sepertinya sudah terjawab di pertanyaan pertama. Jangan mengulang pertanyaan yang serupa.

MB: Kamu pernah masuk ke kawasan Pegunungan Meratus, naik-turun bukit bersama masyarakat adat. Apa yang kamu temukan di perjalanan yang tidak mungkin kamu dapatkan kalau hanya datang sebagai wartawan, wawancara, lalu pulang?

RT: Nampaknya pertanyaan yang satu ini lepas dari tema buku Minoritas, tapi tidak masalah. Karena Anda teman saya, jadi saya jawab saja.

Akhhh…, banyak sekali, Musa. Bahkan, sejujurnya, saya butuh waktu hampir satu tahun untuk membangun keberanian dan kepercayaan diri sebelum akhirnya benar-benar menulis tentang masyarakat adat Dayak Meratus.

Selama itu saya riset, membaca. Ada sekitar enam buku yang saya pelajari, kalau ditumpuk mungkin tebalnya sudah satu jengkal orang dewasa. Saya membacanya pelan-pelan sebelum tidur dan bangun pagi, memahami paragraf demi paragraf, mencoba mengenali sejarah, kepercayaan, tokoh, hingga cara hidup masyarakat.

Sebenarnya, saya tidak pernah berniat ikut campur dalam pemberitaan tentang Meratus. Misalnya, soal penolakan terhadap wacana taman nasional. Tetapi semakin banyak saya membaca pemberitaan yang ada, saya justru semakin jengkel.

Banyak informasi yang menurut saya tidak pernah benar-benar memuaskan, karena persoalan Meratus lebih sering dilihat dari kacamata pemerintah, sementara suara dan cara pandang masyarakat adat sendiri tidak cukup mendapat ruang.

Saya juga melihat, tidak banyak wartawan yang benar-benar turun sampai ke pedalaman Meratus untuk memahami persoalannya secara langsung. Bukan karena persoalannya tidak penting, tetapi memang membutuhkan usaha yang lebih. Jaraknya jauh, medan berat, dan untuk sampai ke beberapa kampung kita harus berjalan berjam-jam, bahkan berhari-hari.

Dari rasa jengkel dan ketidakpuasan itulah akhirnya saya memutuskan untuk ikut turun. Saya ingin melihat sendiri, bukan hanya mengutip apa yang dikatakan orang tentang Meratus.

Kebetulan, sebelum datang, saya sudah cukup banyak membaca tentang tokoh-tokoh dan sejarah Meratus. Itu membantu saya ketika melakukan pendekatan dengan masyarakat. Saya bisa masuk melalui cerita-cerita yang memang mereka kenal, sehingga percakapan tidak terasa seperti wawancara formal antara wartawan dan narasumber. Di perjalanan, saya justru lebih banyak mendengar dan mengamati.

Dan di situlah saya menemukan banyak hal yang tidak mungkin saya dapatkan jika hanya datang, bertanya, mengambil gambar, lalu pulang.

Saya menemukan bahwa Meratus hari ini tidak sepenuhnya sama dengan Meratus yang saya baca dalam buku-buku dan hasil penelitian tahun 80-an. Ada perubahan yang begitu cepat. Anak-anak muda sudah banyak bersentuhan dengan kehidupan modern. Ada yang mengenal narkoba, pekerjaan ilegal, dan berbagai persoalan baru yang sebelumnya tidak banyak saya temukan dalam literatur.

Saya juga melihat bagaimana gagasan modern kadang masuk tanpa benar-benar memahami nilai yang sudah hidup turun-temurun. Contohnya, ketika Gunung Halau-Halau dibicarakan sebagai tempat wisata. Bagi orang luar, membuka akses ke gunung mungkin terdengar sebagai sesuatu yang baik: wisata berkembang, ekonomi bergerak, masyarakat mendapatkan akses. Tetapi bagi masyarakat adat, Halau-Halau bukan sekadar gunung.

Ia memiliki nilai sakral. Dalam pengetahuan dan sejarah yang saya baca, kawasan itu berkaitan dengan tempat tertinggi untuk pelepasan roh leluhur. Karena itu, ketika tempat seperti ini dibuka begitu saja untuk dikunjungi orang, pertanyaannya bukan hanya apakah aksesnya mudah atau apakah wisatawan bisa datang. Ada nilai dan batas-batas adat yang juga harus dihormati.

Begitu pula dengan wacana membuka akses jalan menuju Desa Juhu dengan jalan beraspal. Secara sederhana, tentu itu terdengar sebagai kabar baik. Masyarakat akan lebih mudah keluar-masuk, membawa hasil kebun, mendapatkan layanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan lainnya.

Tetapi setelah melihat langsung kehidupan mereka, saya belajar bahwa setiap kemudahan juga membawa konsekuensi.

Jalan bukan hanya membuka akses bagi masyarakat untuk keluar. Jalan juga membuka akses bagi orang luar untuk masuk. Barang, budaya, kepentingan ekonomi, bahkan persoalan-persoalan baru bisa ikut masuk bersamaan dengan jalan itu.

Jadi, setelah turun langsung ke Meratus, saya semakin memahami bahwa persoalannya tidak sesederhana membuka atau menutup akses, menolak atau menerima pembangunan. Ada sejarah, kepercayaan, ruang hidup, dan cara pandang masyarakat adat yang harus ditempatkan di dalam pembicaraan.

Itulah sesuatu yang mungkin tidak akan saya dapatkan kalau saya hanya datang sebagai wartawan, mewawancarai beberapa orang, mengambil gambar, kemudian pulang.

Ketika kita ikut berjalan bersama mereka, melewati bukit, menyeberangi sungai, tidur di tempat yang sama, dan mendengar cerita mereka sepanjang perjalanan, kita tidak hanya mendapatkan informasi. Kita mulai memahami mengapa mereka berpikir seperti itu, mengapa mereka mempertahankan sesuatu, dan mengapa bagi mereka sebuah gunung, jalan, hutan, atau tanah bisa memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar objek pembangunan.

Isu ini sulit dipahami oleh orang kota jika tidak melihatnya dari perspektif antropologis.

MB: Ketika mengikuti kehidupan masyarakat secara langsung, apakah ada momen tertentu yang membuatmu melihat persoalan pertambangan dengan cara yang berbeda?

RT: Sebenarnya, persoalan pertambangan di satu daerah dengan daerah lain sebelas-dua belas. Biasanya saya mencari pembanding dari berbagai literatur, baik buku, pemberitaan nasional yang berkualitas, maupun sumber dari luar negeri.

Yang berbeda ketika turun langsung adalah saya menemukan kerugian-kerugian tersembunyi yang sering tidak terlihat atau tidak pernah dihitung. Misalnya kerusakan ekologis yang begitu kompleks dan sulit diterjemahkan ke dalam nilai ekonomi.

Jadi, persoalannya bukan lagi sekadar piramida terbalik dalam jurnalisme, tetapi lebih seperti fenomena gunung es: apa yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil, sementara kerugian sebenarnya jauh lebih besar di bawahnya.

Pertanyaan ini sulit untuk dibahas, saya malas, lain kali saja!

MB: Dalam buku ini, kamu tidak hanya menulis tentang tambang, tetapi tentang orang-orang yang hidup di sekitarnya. Kenapa kamu memilih menempatkan manusia sebagai pusat cerita?

RT: Kalau tumbuhan dan binatang bisa saya ajak wawancara, seperti Seno Gumira Ajidarma yang pernah mewawancarai seekor siput, mungkin saya juga akan melakukannya. Tapi karena itu hanyalah cerita fiksi maka saya tidak melakukannya.

Jadi begini, Mus. Objek yang bisa saya ajak bicara sering kali adalah manusia, bukan kapal tongkang atau mesin eskavator, maka saya memilih warga sebagai pusat cerita.

Karena bagi saya, loyalitas utama seorang jurnalis adalah kepada warga. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel juga menempatkan itu sebagai salah satu prinsip utama jurnalisme: “journalism’s first loyalty is to citizens”.

Saya cukup fanatik dengan prinsip dua orang itu. Peace.

MB: Sebagai jurnalis, kamu tentu harus menjaga jarak dengan narasumber. Tetapi di lapangan kamu juga hidup, berjalan, bahkan melewati medan yang sama dengan mereka. Bagaimana kamu menjaga batas antara kedekatan dengan warga dan independensi jurnalistik?

RT: Oke, sejauh ini, pertanyaan inilah yang paling sulit sehingga membuat saya perlu membuka kembali beberapa literatur di rak buku saya hingga larut malam. Anda sialan!

Sebagai jurnalis, menjaga batas antara kedekatan dengan warga dan independensi jurnalistik adalah soal etika profesi yang diatur dalam kode etik dan literatur jurnalisme. Kita boleh “dekat” untuk memahami konteks, tetapi tidak boleh “terikat” sehingga kehilangan sikap kritis.

Kode Etik Jurnalistik (KEJ) di Indonesia menegaskan wartawan harus bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk, dengan independensi sebagai landasan agar berita tidak menjadi corong narasumber, termasuk warga yang ditemui di lapangan.

Dalam literatur etika jurnalistik, independensi sering dirumuskan sebagai “loyalitas kepada publik, bukan kepada narasumber”, sehingga kedekatan yang dibangun dengan warga harus tetap berorientasi pada kepentingan publik, bukan pada agenda pribadi narasumber.

Istilah “kedekatan yang berjarak” memang muncul dalam diskusi etika jurnalistik untuk menggambarkan posisi ideal: jurnalis perlu dekat secara empatik dan kontekstual, tetapi tetap menjaga jarak profesional.

Secara praktis, ini berarti wartawan bisa berjalan bersama warga, mendengarkan cerita mereka, bahkan melewati medan yang sama, tetapi tidak boleh ikut menjadi juru bicara, atau mengambil posisi yang mengaburkan peran sebagai pemantau kekuasaan.

Literatur dan pedoman perilaku jurnalis memberikan beberapa batasan konkret, seperti menghindari hubungan sosial yang terlalu akrab dengan narasumber atau pihak yang berpotensi menjadi narasumber (kecuali hubungan sosial yang lazim), memastikan jurnalis bebas dari apa yang mereka liput karena narasumber tidak berhak memaksa jurnalis menulis sesuatu, dan menegaskan bahwa jurnalis bukan “corong” narasumber sehingga independensi pikiran dan sikap memungkinkan peliputan yang adil tanpa dipengaruhi pihak yang diliput.

Dalam konteks liputan investigasi, kedekatan memang diperlukan untuk mendapatkan informasi mendalam, tetapi tetap dengan prinsip profesional: menunjukkan identitas (kecuali dalam metode tertentu yang dapat dipertimbangkan untuk investigasi), tidak menyuap, dan menghasilkan berita yang faktual serta jelas sumbernya.

Ketika jurnalis berada di medan yang sama dengan warga, misalnya dalam liputan konflik agraria atau pertambangan, beberapa praktik membantu menjaga batas, seperti menjelaskan sejak awal bahwa saya jurnalis, bukan aktivis, pengacara, atau pihak yang akan “membela” secara langsung.

Membatasi keterlibatan fisik dan emosional dengan hadir, mengamati, dan mewawancarai, tetapi menghindari tindakan yang membuat saya dianggap bagian dari kelompok tertentu, melakukan verifikasi silang dengan mendengar pihak lain dan memeriksa dokumen, data, serta sumber independen, serta melindungi privasi dan martabat narasumber, terutama ketika menyangkut pengalaman traumatis, kecuali ada kepentingan publik yang kuat.

MB: Ada cerita tentang tanah, air, kecelakaan, debu batubara, tambang ilegal, sampai masyarakat yang berhadapan dengan perusahaan. Dari semua reportase itu, mana yang paling menguras tenaga atau pikiranmu? Kenapa?

RT: Pertanyaan kali ini seperti seorang psikolog. Dari semua reportase itu, yang paling menguras tenaga dan pikiran biasanya adalah liputan yang memaksa saya masuk ke zona konflik langsung antara masyarakat dan perusahaan, karena di situlah tekanan fisik, psikologis, dan etika bertemu dalam satu waktu.

Saya tidak hanya berurusan dengan data tanah, air, atau debu batubara yang harus saya uji di laboratorium, tetapi juga dengan narasumber yang marah, takut, atau terintimidasi, serta risiko keamanan dari pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan.

Liputan tambang ilegal, misalnya, seringkali melibatkan jaringan yang rumit: pelaku ekonomi lokal, oknum aparat, hingga pemilik modal yang melindungi operasi tersebut, sehingga verifikasi fakta menjadi sangat berat dan rentan. Saya harus menelusuri dokumen, memeriksa lapangan, membuat peta secara manual dan wawancara banyak pihak, sementara di sisi lain ada ancaman bahwa akses narasumber bisa saja tertutup sehingga memerlukan waktu untuk wawancara bersurat.

Aspek yang juga sangat menguras pikiran adalah ketika saya melihat langsung dampak kesehatan dan lingkungan: anak-anak yang terpapar debu batubara, air yang tercemar, atau lahan pertanian yang rusak, tetapi harus tetap menulis dengan kepala dingin dan tidak terjebak menjadi aktivis.

Literatur tentang jurnalisme di zona konflik mencatat bahwa paparan berulang terhadap penderitaan narasumber bisa memicu stres, rasa bersalah, hingga gejala mirip PTSD, terutama bila jurnalis merasa tidak berdaya mengubah situasi.

MB: Apa yang paling sering disalahpahami orang tentang kerja jurnalistik ketika melihat hasil akhirnya hanya sebagai sebuah berita?

RT: Yang paling sering disalahpahami orang tentang kerja jurnalistik adalah anggapan bahwa berita hanyalah “tulisan jadi” yang muncul begitu saja. Padahal di baliknya ada proses panjang verifikasi, konfirmasi, dan pertimbangan etika yang jarang terlihat oleh publik.

Banyak pembaca hanya melihat hasil akhir berupa teks atau video berita, tanpa menyadari bahwa sebelum itu jurnalis harus mencari fakta di lapangan, mengecek silang sumber, memastikan keaslian dokumen, dan kadang menunggu berhari-hari agar informasi benar-benar akurat.

Orang juga sering mengira bahwa jurnalis cukup “mendengar satu versi” lalu langsung menulis, padahal prinsip dasar jurnalisme adalah disiplin verifikasi: check and recheck, cross-check, dan konfirmasi ke berbagai pihak, terutama untuk berita yang bisa merugikan orang lain.

Dalam literatur jurnalistik, justru inilah yang membedakan jurnalisme profesional dari gosip, rumor, atau propaganda: komitmen untuk menguji informasi sebelum dipublikasikan, bukan sekadar menyebarkan klaim yang beredar.

Salah kesalahpahaman lain adalah persepsi bahwa jurnalis selalu bisa menulis apa saja dengan bebas dan cepat, sementara di lapangan mereka sering berhadapan dengan dilema antara kecepatan dan akurasi, terutama di era media online yang dituntut serba instan. Ada kalanya redaksi harus memilih antara mengejar breaking news atau menahan berita sampai verifikasi selesai, dan keputusan ini jarang diketahui pembaca yang hanya melihat hasil akhirnya.

Banyak orang juga tidak melihat beban etika yang dipikul jurnalis: menjaga keberimbangan, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, menerapkan asas praduga tak bersalah, serta melindungi privasi dan martabat narasumber, terutama dalam kasus sensitif seperti konflik agraria atau kekerasan.

Proses ini melibatkan pertimbangan mendalam tentang apa yang layak dimuat, bagaimana merumuskan kalimat agar tidak menjatuhkan pihak tertentu secara tidak adil, dan kapan harus memberi catatan bahwa berita masih perlu verifikasi lanjutan.

MB: Ada berapa banyak cerita yang akhirnya tidak masuk ke dalam buku ini? Dan apa yang membuat sebuah cerita akhirnya kamu pilih untuk ditulis atau tidak?

RT: Dalam proses penyusunan buku, ada lebih banyak cerita yang tidak masuk daripada yang akhirnya dimuat, karena kurasi naskah melibatkan seleksi ketat berdasarkan kepentingan publik, kekuatan bukti, dan koherensi tema buku.

Jumlah pastinya bergantung pada proyeknya, bisa puluhan liputan awal yang disortir menjadi hanya segelintir bab akhir.

Sebuah cerita saya pilih untuk ditulis atau dimuat jika memenuhi beberapa kriteria inti. Pertama, menyangkut kepentingan publik yang jelas, misalnya kerusakan lingkungan atau pelanggaran hak warga yang dampaknya luas.

Kedua, memiliki magnitude atau dampak signifikan bagi masyarakat, baik secara sosial, ekonomi, maupun ekologis, sehingga layak menjadi bagian dari diskursus publik yang lebih besar.

Ketiga, relevan dengan kondisi sekarang, meskipun kasusnya bermula lama, asalkan ada kaitan dengan situasi terkini.

Selain itu, cerita yang kuat dengan bukti dokumen, data lapangan, dan narasumber berlapis yang diverifikasi silang saya masukkan dalam buku daripada laporan yang masih dangkal atau terlalu bergantung pada satu versi.

Di sisi lain, banyak cerita akhirnya tidak masuk karena keterbatasan ruang, waktu, dan sumber daya, atau karena risiko hukum dan keamanan yang terlalu tinggi jika dimuat dalam bentuk buku yang lebih permanen. Ada juga liputan yang gagal masuk karena buktinya belum cukup kuat, narasumber kunci mundur, atau ada tekanan yang membuat publikasi penuh menjadi tidak memungkinkan.

MB: Judul Minoritas awalnya kamu ambil dari judul album Slank. Tetapi setelah buku ini selesai, apa arti kata “minoritas” buatmu?

RT: Awalnya kata minoritas memang saya ambil dari judul album Slank. Waktu itu sederhana saja, karena saya merasa kata itu cukup mewakili cerita yang ingin saya tulis. Tetapi setelah buku ini selesai, maknanya menjadi jauh lebih pas bagi saya.

Minoritas bukan semata-mata tentang jumlah orang yang sedikit. Ia lebih tentang siapa yang suaranya paling kecil ketika berhadapan dengan kekuasaan.

Mereka bisa saja jumlahnya banyak, tetapi tetap menjadi minoritas ketika kepentingan mereka tidak didengar saat keputusan tentang hidup mereka dibuat tanpa melibatkan mereka.

Dalam buku ini saya melihat bahwa masyarakat di sekitar tambang sering berada dalam posisi seperti itu.

Mereka hidup di tanah sendiri, tetapi harus berhadapan dengan kekuatan modal, izin, kebijakan, dan keputusan yang datang dari luar. Bahkan ketika mereka menyampaikan keberatan, suara mereka sering kali kalah keras dibanding suara perusahaan atau pemerintah.

Jadi, setelah buku ini selesai, kata minoritas tetap saya ambil, bukan lagi sekadar judul album Slang. Ia menjadi cara untuk melihat siapa yang berada di sisi yang paling rentan dalam sebuah persoalan. Dan mungkin justru di situlah tugas jurnalisme: mendekat kepada mereka yang suaranya paling mudah tenggelam, lalu memastikan cerita mereka tidak ikut hilang. Begitu, Mus.

MB: Setelah bertemu begitu banyak orang dan melihat persoalan mereka dari dekat, apakah kamu pulang sebagai jurnalis yang sama dengan ketika pertama kali berangkat?

RT: Pada dasarnya, iya. Saya pulang sebagai jurnalis yang sama, dengan prinsip dan cara kerja yang kurang lebih tetap sama. Saya tetap melihat tugas saya sebagai jurnalis untuk mencari fakta, memeriksa data, dan berpihak pada kepentingan publik.

Yang berubah mungkin bukan prinsipnya, tetapi cara saya melihat sebuah persoalan. Setelah terlalu sering melihat langsung kehidupan orang-orang yang terdampak, saya menjadi lebih peka terhadap hal-hal yang sebelumnya mungkin hanya saya lihat sebagai angka, data, atau sekadar bahan berita.

Jadi, saya tidak merasa menjadi jurnalis yang berbeda. Saya hanya pulang dengan cara pandang yang lebih luas dan pertanyaan yang lebih banyak.

Kalau tertekan secara psikologis, iya. Saya perlu ke psikolog untuk memeriksakan kejiwaan ini dalam waktu dekat.

MB: Kalau pembaca hanya membawa pulang satu hal setelah membaca Minoritas, kamu ingin mereka membawa pulang apa?

RT: Kalau pembaca hanya membawa pulang satu hal dari Minoritas, saya ingin mereka pulang dengan satu kesadaran sederhana: bahwa di balik setiap persoalan tentang tambang, hutan, tanah, dan kebijakan, selalu ada manusia yang hidup dan menanggung akibatnya.

Jangan hanya melihat apa yang tampak di permukaan, tetapi cobalah melihat siapa yang harus membayar harga dari semua itu.

Saya tidak berharap pembaca kemudian menjadi sangat kritis, apalagi tiba-tiba membenci tambang setelah membaca buku ini. Cukup kalau setelah menutup buku, mereka menjadi sedikit lebih peduli ketika membaca berita dan bertanya: siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan suara siapa yang belum didengar?

Karena pada akhirnya, Minoritas bukan buku yang ingin memberikan semua jawaban. Saya hanya ingin meninggalkan beberapa pertanyaan di kepala pembaca. Kalau setelah membacanya mereka masih membawa pertanyaan-pertanyaan itu, berarti buku ini sudah melakukan pekerjaannya.

Sudahlah, pertanyaannya sudah terlalu banyak. Rokok di bungkus tinggal sebilah. Ini perkara yang sangat gawat, dan saya harus segera tidur.


Penulis

  • Arkalitera merupakan penerbit independen sekaligus pengelola situs media kreatif penghimpun karya yang bertumpu pada kerja kolektif.


Bagikan Postingan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga