Puisi Nurul Hikmah dan Muhammad Zainnur Royyan
| Memuat… | Memuat…
Kecelakaan Kerja Penulis Pemula

Nurul Hikmah

setengah lima

notifikasi telat terbaca

kujumpai para pujangga:

daffa, musa bastara, aliansyah jumbawuya, dan lainnya

di layar datar 11,5″

orang-orang sibuk membicarakan metafora

menulis dan segala aturan

kertas-kertasku ikut-ikutan berkata

“KERJA, KERJA, KERJA, KERJA, KERJA”

sial!

kutenggak secangkir kopi

berusaha memadamkan berisik kepala

kepalaku kabur ke telinga

telingaku bersembunyi di mata

mata tertangkap basah

menyerahkan seluruh nyawa

kuputuskan berlari

ketika kudengar seseorang bicara,

“Puisi bisa ditulis dari apa saja, dari hal-hal di sekitar kita.”

aku hampir tertawa

keresahanku kembali lembur

sedang aku memilih mati

meninggalkan pekerjaan

seorang diri

barangkali, nanti

ketika aku hidup kembali

pekerjaanku telah berganti

menjadi puisi

Balangan, 22 Agustus 2026


Dari Takdir yang Tertunda

Muhammad Zainnur Royyan

sekarang ayah masih di rumah,

rumah ia cari pada kakek

kakek di layar genggam

di layar kaca

jika tiba masanya menjadi ayah

dan kakek bertamu ke rumah

ke mana kelak anak-anak

kan menghambur

pangkuan kakek

pelukan ayah


Author

  • Nurul Hikmah

    Berdomisili di Kabupaten Balangan. Membaca dan menulis puisi menjadi salah satu bentuk pelariannya dari berisik kepala.

  • Muhammad Zainnur Royyan

    Lelaki kelahiran Banjarmasin tahun 1999 yang masih belajar menulis hingga hari ini, berpindah-pindah di antara berbagai sekolah menulis, kursus, dan pelatihan. Setelah sebelumnya sempat berenang dalam dunia reportase dan jurnalistik, kini sedang keranjingan menyelami puisi. Menetaskan karya cetak pertama dalam antologi “Ceritanya Puisi” bersama empat penulis lain yang juga selingkar pertemanan saat kuliah.


Bagikan Postingan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga