
Kecelakaan Kerja Penulis Pemula
Nurul Hikmah
setengah lima
notifikasi telat terbaca
kujumpai para pujangga:
daffa, musa bastara, aliansyah jumbawuya, dan lainnya
di layar datar 11,5″
orang-orang sibuk membicarakan metafora
menulis dan segala aturan
kertas-kertasku ikut-ikutan berkata
“KERJA, KERJA, KERJA, KERJA, KERJA”
sial!
kutenggak secangkir kopi
berusaha memadamkan berisik kepala
kepalaku kabur ke telinga
telingaku bersembunyi di mata
mata tertangkap basah
menyerahkan seluruh nyawa
kuputuskan berlari
ketika kudengar seseorang bicara,
“Puisi bisa ditulis dari apa saja, dari hal-hal di sekitar kita.”
aku hampir tertawa
keresahanku kembali lembur
sedang aku memilih mati
meninggalkan pekerjaan
seorang diri
barangkali, nanti
ketika aku hidup kembali
pekerjaanku telah berganti
menjadi puisi
Balangan, 22 Agustus 2026
Dari Takdir yang Tertunda
Muhammad Zainnur Royyan
sekarang ayah masih di rumah,
rumah ia cari pada kakek
kakek di layar genggam
di layar kaca
jika tiba masanya menjadi ayah
dan kakek bertamu ke rumah
ke mana kelak anak-anak
kan menghambur
pangkuan kakek
pelukan ayah





Tinggalkan Balasan