Puisi Ghina Salsabila dan Irma Wulandary
| Memuat… | Memuat…
Ihwal Membual

Ghina Salsabila

Idealisme tewas, tergeletak di hadapan perut lapar dan otak buntu. Masih kau berkilah bahwa ia hanya mati suri dan akan bangun dengan sajen sebatang samsu?

Idemu sempit, perutmu menjerit, pikiranmu morat-marit. Mereka kalah laju dan kalah gesit dibandingkan bisik-bisik yang tercatat dalam baris-baris kebijakan—nol kebajikan—seratus kebajingan.

Suaramu senada dengan kicauan emprit. Sekarat. Habis-habisan dikeroyok elang atas perintah pawang yang terganggu akan patukmu pada sebiji padi di satu sore menjelang panen raya.

Aksimu serupa kokok ayam jantan pertama pada tengah malam buta, terjerit karena sorot cahaya lampu yang sebenarnya hanya tipu daya.

Idealisme seperti itu hanya menjelma menjadi egoisme sengak, wajahmu menggertak, kakimu masih payah merangkak. Tubuhmu tak ubahnya batang kayu lapuk, masih pula percaya diri menggaungkan suara-suara sumbang.

Kau pulang ke alam lain. Kau berkunjung ke kampung-kampung lugu dan naif, menjaja semangat yang nyaris pegat. Orang-orang kampung menyambut gembira, kau tak ubahnya juru selamat penebar kupon diskon. Kumpulkan 10 stamp untuk mendapatkan 1x transaksi kunci surga.

Dikerubungi orang-orang gembira, kau menari dalam lakon sandiwara. Egomu menyeret perut dan otakmu ke dalam jurang.

Marabahan, Mei 2026



Trafo Listrik

Irma Wulandary

Setiap pagi, menangis
Tak mau sekolah
Mandi air dingin
Ditemani Abi

Perkara lupa diajak jalan
Melihat trafo listrik kesukaan
Berkeliling pasar
Bukan jalan apalagi jalan
Hanya pandang tiang
Tak peduli layangan

Terpantau kagum
Bersuara degum
Memandang jenuh
Baru mau pulang

“Mah, coba lihat. Bagus ya?”


Author

  • Ghina Salsabila

    Penulis berasal dari Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Terkadang membaca buku dan menulis puisi di sela kegiatan sehari-hari. Berprofesi sebagai Tenaga Sanitasi Lingkungan, sedikit-banyak memengaruhi topik kepenulisan yang didominasi oleh tema alam dan ekologi. Dapat dihubungi melalui akun instagram: @hi_ghinas

  • Irma Wulandary

    Seorang ibu rumah tangga, alumni STIMIK Indonesia Banjarmasin, dan pernah menjadi guru PAUD. Ia merupakan anggota Komunitas Dibalik Halaman Tanbu. Buku favoritnya adalah Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.


Bagikan Postingan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga