Narasi Pergulatan Identitas dalam Buku “Surat-Surat dari Jalan Wilhelmina” Karya Irwan Aprialdy
| Memuat… | Memuat…

Puisi kerapkali datang kepada kita melalui hal yang paling dekat dan dapat dirasakan bersama, meski momen puitis yang ditimbulkan darinya bisa berbeda-beda di tiap pembaca. Hal demikian juga terjadi pada puisi-puisi Irwan Aprialdy dalam buku Surat-Surat Dari Jalan Wilhelmina. Irwan mengajak kita sebagai pembaca untuk duduk sejenak dalam kolase-kolase peristiwa yang dialaminya, entah dialami secara langsung, maupun tidak langsung. Peristiwa disini tidak datang sebagai suatu momen dramatis, tapi semacam keresahan berulang. Keresahan ini pun datang dari lingkungan terdekatnya, keluarga.

“tanah siapa menyusui penglihatanku?
langit mana mengatapi matahari hitam
dan benih tanya tak habis-habis
di mata kanak-kanakku?”
(petikan baris pembuka puisi “Kaki Ayah”, halaman 79)

Keresahan disini menarik, karena datang dari sudut pandang seorang anak yang bertanya terkait “tanah”. Hal ini tidak lazim mengingat bahwa yang bertanya adalah seorang anak belia, bukan remaja beranjak dewasa atau semacamnya. Keresahan si “mata kanak-kanakku” jadi dominan juga ketika ia membuat statement yang lebih intens dari sekadar bertanya “tanah siapa”,

“kupelajari betapa racun sepasang kaki
dari caramu berlari, setelah ibu memecah sendiri
ketuban sepi, melahirkan dendam, dan geram bisu
kehamilan di jumat siang yang menggenapkan
ketakwaan para lelaki dan keingkaran seorang suami”
(puisi “Kaki Ayah”, halaman 80)

Irwan seolah mengajak kita untuk masuk dalam kolase horornya sebagai bagian dari pergulatan identitas. Identitas yang bergerak dari “betapa racun sepasang kaki”, “ketakwaan para lelaki”, dan “keingkaran seorang suami”. Tiga hal ini cukup sigfinikan membangun peristiwa yang cukup intens. Di bagian awal, Irwan membukanya dengan pertanyaan “tanah siapa?”, lalu berlanjut dengan baris-baris lain yang cenderung bernuansa horor sebagai sebuah narasi,

“ tembuniku diusung para datu,
dari tanah jauh, tanah bapak-ibumu.
kau warnai darahku dengan api
yang mencari-cari jalan keluar
dan pori-pori penari mabuk
atau kening hitam perawi palsu”

Secara tak langsung ini menegaskan bahwa Irwan tidak sedang membikin bikin suasana di puisi agar tampak horor, tapi justru malah menciptakan suasana horor itu sebagai bagian dari keutuhan narasinya. Di satu sisi, Irwan juga membuat kita bertanya, apakah “tanah jauh” itu tiada lain adalah identitas lahiriahnya sebagai anak Banua, ataukah itu hanya bagian dari pergulatan identitas seorang “aku” dalam menemukan kembali jalan pulangnya, jalan yang tak pernah mudah dan melulu terbaca sebagai suatu renungan gundah belaka?

Irwan sengaja menempatkan subjek tokoh dalam narasi puisinya agar teks tidak terbaca sebagai bagian dari perayaan curhat saja, disitulah barangkali letak utama dari kekuatan puisinya; terbaca sebagai narasi-narasi tokoh yang tampak koyak, tapi juga bertahan di tengah hiruk-pikuk perjalanan hidup,

“menjadikan benihmu buah hati malam
sebab bukan sengau suaramu
yang mengazani tangis pertama
dan menuntunku memburu keingkaran.
pada lumpur dan sungai,
kutanyakan alamat menuju rumah terbenar
bagi meditasi berdurasi panjang
ranjang bagi tidur pagi
dan meja ketik bagi malam
hypersomnia, meja makan
untuk lauk pesanan,
bilik tangis atau ruang baca bagiku
bernegosiasi dengan Tuhan”
(puisi “Kaki Ayah”)

Lagi dan lagi, Irwan berhasil membawa pengalaman tekstual kita pada satu kondisi ketika “alamat menuju rumah terbenar”, justru malah membuatnya “bernegosiasi dengan Tuhan”, pergulatan kembali terjadi dan Irwan memilih untuk tidak menghindar. Ia justru menjadikan hal yang demikian untuk menggugat kembali arti dari “keingkaran” sebagai seseorang. Seseorang yang bertanya pada “lumpur dan sungai”, seseorang yang “hypersomnia” dalam meditasi durasi panjang, hingga bilik tangis dan ruang baca membuatnya sejenak istirah dari bayang-bayang pikiran.

Puisi-puisi Irwan, dalam situasi yang lain, kadang juga membawa kita pada satu kondisi dimana seseorang mengingat kembali pengalaman masa kecilnya paling berkesan. Bukan hanya berkesan, tapi juga membawa memori kolektif pada satu sosok terdekat dalam keluarga,

“saat nenek dan aku membersihkan karat dari tiap sisi belati,
ia berbisik, “Bila kelak kau tersayat atau tertusuk belati sendiri,
jangan minta bantu bahkan pada ia yang kau biarkan
mendengkur di sampingmu.”
(cuplikan puisi “Siti Semah”, halaman 72)

Kita sebagai pembaca dibawa masuk dalam sebuah kisah masa kecil seseorang yang memiliki pengalaman personal dengan si “nenek”. Hal ini terasa personal, tapi justru membangkitkan kesan bagi pembaca. Pengalaman membersamai seorang nenek dalam kehidupan sehari-hari pastilah dialami dan dilalui siapa saja, termasuk Irwan, sebagai si penulis puisi tersebut.

Pengalaman personal dengan nenek jadi menarik karena tokoh cucu disana sedang mendapat wejangan perihal belati dari tokoh “nenek”. Belati dalam puisi Irwan bukan hanya digunakan sebagai cara si tokoh “nenek” untuk bernarasi pada si cucu tentang kehidupan, tapi juga bagaimana objek belati tersebut digunakan sebagai bahasa kias untuk si “kau” yang “bila tersayat atau tertusuk belati sendiri/jangan minta bantu/bahkan pada ia yang kau biarkan/mendengkur di sampingmu”. Narasi antara si nenek dan si kau ini membawa kita pada sebuah situasi ketika hidup yang melukai berkali-kali justru menguatkan, ketika hidup yang “tertusuk belati sendiri” kembali bangun dari keterpurukan yang dialami. Irwan berhasil mengecoh kita lewat narasi-narasi si nenek tentang belati asahannya. Ternyata nenek bukan sedang berkhotbah semata, tapi juga menyelipkan pesan simbolik lewat ucapan perihal belati tersebut.

“sekarang, sebab aku tahu ia berkata jujur, ingin kutarik lidahnya
hingga terjulur, lalu memotongnya. sebab, setiap orang jujur
harus pandai-pandai membisu dan sebagai seekor cucu
aku ingin mengajarinya itu”
(puisi “Siti Semah”, halaman 72)

Nuansa kontemplatif dibangun Irwan dengan cukup konsisten dalam puisi-puisinya, tak terkecuali puisi yang sifatnya sangat personal. Ia cukup hati-hati menggunakan peristiwa dan narasi perihal tokoh, sehingga jalinan kisah yang terbaca bukan sebatas tempelan kejadian. “sekarang, sebab aku tahu/ ia berkata jujur/ ingin kutarik lidahnya hingga terjulur/ sebab setiap orang jujur harus pandai-pandai membisu/dan sebagai cucu/aku ingin mengajarinya itu”. Narasi ini menjadi penegas bahwa Irwan dan puisi-puisinya memang berangkat dari pengalaman terdekat.

Sifat jujur, yang secara harafiah cenderung pada kebaikan, justru dibuat kontradiksi dengan tindak-tanduk si “aku” yang “ingin kutarik lidahnya hingga terjulur”. Situasi yang cukup kontras karena sebelumnya si “aku” tampak tegar mendengar wejangan si nenek perihal belati, justru malah menjadi seseorang yang ingin menarik lidah karena perkataan paling jujur. Barangkali, ini juga siasat Irwan, ketika puisi sudah terlampau jenuh mengabadikan hal-hal dirasa indah, puisi Irwan justru ingin mengatakan sebaliknya.

Hal indah bukan satu-satunya yang harus utama pada puisi, tapi “pengalaman” membaca yang ditimbulkan dari puisi itu sendiri, apakah sedih, haru, atau horor. Irwan mengambil jalan tengahnya. Membuat peristiwa dari hal terdekat, dalam hal ini tokoh nenek, lalu mengolahnya dengan beberapa situasi yang kontradiksi, seperti “jujur” dan “lidah terjulur” tadi, misalkan. Dua hal yang secara harafiah bertolak makna justru dipertemukan dalam satu rangkaian narasi. Karena itulah, teks puisinya, apa pun tema dan gaya, dominan pada satu narasi perihal tokoh terdekat keluarganya. Sisi yang lain, narasinya yang dominan itu membawa kita pembaca dalam keresahan yang tak sudah, antara keinginan untuk merawat ingatan-ingatan, atau melepaskannya sebagai perkara yang entah.

“tak seperti ibuku yang kerap berdusta tentang kupu-kupu,
yang katanya menubuatkan kedatangan seorang tamu,
aku lebih percaya perkataan wanita tua itu tentang belati.

“Tangis pertamaku adalah tangis seorang piatu
dari rahim kematian ibu. Bersama waktu, seperti semua
yang telah mati, para lelaki yang pergi takkan pernah kembali.
Sekali lagi, seperti abah-ku dan kai-mu yang mati, semua lelaki
yang memilih pergi takkan pernah lagi kembali. Dan sungguh,
pada kau, utuh halus, aku tak berdusta. Sebab, ayahmu
memilih pergi, maka, sebaiknya kau anggap ia sudah mati.
Kelak ketika dewasa buka celanamu dan ketahui di situlah
kebanyakan pria mengacungkan telunjuk pada kiblat hati.”
sabdanya sambil menahan gigil dari deretan gigi tersisa.
digenggamnya erat belati mengilat tanpa karat, siap menyiangi
sisik dari tubuh ikan, seperti menguliti ingatan buruk sebelum
sisa usianya kami santap bertiga dengan firasat kematian.

aku menyesal tak memotong lidahnya dan meyambungkannya
ke lidahku. atau jangan-jangan, kata-katanya sudah mendaging
seperti ia dan ibu adalah juga darah dan kesadaran di tubuh
laki-lakiku? sungguh, ingin kutarik lidahnya hingga terjulur,
sebab ia berkata terlalu jujur. namun, di hadapan belati kulihat
takdir bekerja, memecah, dan mengental dalam darah”
(puisi “Siti Semah”, halaman 73-74)

Rupanya, objek “belati” masih berlanjut dan menjadi semacam momen kontemplatif yang lain. Irwan tidak sekadar berkisah pada kita lewat tokoh si nenek dan wejangan panjangnya perihal masa lalu, tapi juga memprovokasi teks agar jalinan cerita tidak punah begitu saja,

Bersama waktu, seperti semua
yang telah mati, para lelaki yang pergi takkan pernah kembali.
Sekali lagi, seperti abah-ku dan kai-mu yang mati, semua lelaki
yang memilih pergi takkan pernah lagi kembali. Dan sungguh,
pada kau, utuh halus, aku tak berdusta. Sebab, ayahmu
memilih pergi, maka, sebaiknya kau anggap ia sudah mati.
Kelak ketika dewasa buka celanamu dan ketahui di situlah
kebanyakan pria mengacungkan telunjuk pada kiblat hati.”
sabdanya sambil menahan gigil dari deretan gigi tersisa.
digenggamnya erat belati mengilat tanpa karat, siap menyiangi
sisik dari tubuh ikan, seperti menguliti ingatan buruk sebelum
sisa usianya kami santap bertiga dengan firasat kematian.

Kisah perihal abah dan kai, seakan mengutuhkan memori kolektif yang lama terpendam. Tokoh “nenek” mempertegas perihal “yang memilih pergi takkan pernah kembali” sebagai cara untuk berdamai dengan kenyataan, bahwa ada hal-hal di luaran tidak bisa dipungut kembali dan hanya teringat sebagai kisah berkelanjutan ke anak-cucu. Disini, Irwan melebur sepenuhnya dalam sudut pandang si nenek dan si cucu, bahkan dengan leluasa berganti-ganti sudut pandang sehingga tampak bahwa narasi ini terjaga dengan pengisahan cukup rapi,

aku menyesal tak memotong lidahnya dan meyambungkannya
ke lidahku. atau jangan-jangan, kata-katanya sudah mendaging
seperti ia dan ibu adalah juga darah dan kesadaran di tubuh
laki-lakiku? sungguh, ingin kutarik lidahnya hingga terjulur,
sebab ia berkata terlalu jujur. namun, di hadapan belati kulihat
takdir bekerja, memecah, dan mengental dalam darah”

Sudut pandang “nenek” dan belatinya begitu mudah berpindah ke sudut pandang si cucu, yang tak kalah filosofis disbanding tokoh “nenek”. Disini kita juga bisa membaca hal lainnya yang terjadi pada narasi puisi Irwan. Teks nya terasa seperti rangkuman cerita dari berbagai orang terdekat, diolah ulang, dan diterjemahkan sedemikian rupa sehingga menjadi suatu pengalaman lain bagi pembaca. Begitu juga yang terjadi pada puisi “Siti Semah” ini, termasuk puisi dengan tema-tema lainnya. Irwan menjadikan ruang puisinya sebagai momen untuk berdialektika dengan memori kolektif perihal keluarga dan kedekatannya secara personal dengan beberapa orang yang dirasa akrab. Disitulah peran puisi Irwan terus-menerus membawa kita pada suatu pengalaman yang lebih dalam dan riuh, ada kalanya merasa ditelanjangi, entah oleh pilihan kata, peristiwa, atau sekadar kolase-kolase kejadian dalam teks yang mempertanyakan kembali posisi kita sebagai pembaca, sebagai seseorang dengan berbagai peran, sebagai seseorang dengan berbagai kompleksitas pemikiran tak berjeda. Disitulah, puisi-puisi Irwan menjadi jalan penengah bagi pening kita.

Banjarbaru, 10 September 2026


Penulis

  • Muhammad Daffa

    kelahiran Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 1999. Tenaga Pengajar di SMP Muhammadiyah Boarding School, Martapura. Puisi-puisinya dimuat Kompas, Koran Tempo, Harian Rakyat Sultra, Majalah Mata Puisi, Majalah Sastra Kandaga, Sastramedia, dan sejumlah buku bersama, baik lokal maupun nasional. Beberapa kali diminta menjadi juri dan pemateri di sejumlah instansi. Bergiat juga di Komunitas Arkalitera. Buku tunggalnya, “Catatan Dari Pekarangan Acak”(Penerbit Lumpur, Kumpulan Puisi, 2025) dan “Mayat Mayat Yang Bercerita Tentang Kematianmu”(Penerbit Arkalitera, Kumpulan Cerpen, 2025). Akun instagramnya: @sebermulahujan. 


Bagikan Postingan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga