Bunga Mekar dan Puisi-Puisi Lainnya
| Memuat… | Memuat…
Bunga Mekar


kita mendapati diri
terperangkap dalam sebuah realitas
—yang dipenuhi dosa. di sana
kita berkelana, penuh ketakutan
terhadap segala akhir.

menunggu dengan sabar, bersembunyi
di antara tanaman hias
     yaitu, di antara
     bunga-bunga.

yang mereka paksa mekar: meskipun
              diguyur lebat hujan
dan esoknya
              diseka kering matahari
dan lusanya,
dan tulatnya,
dan seterusnya.

hingga payah bunga-bunga itu
dikaruniai mekarnya keindahan
yang menyiksa harumnya.


Ter(lampau) Selimut

perang.
memorakporandakan,
tanah air kepalamu.

tiada.
tiada lagi, untukmu
tempat berlindung.

gigil.
kau menggigil,
dingin menusuk tulang.
hangat. kau menghangat.

tidak.
namun tidak,
kau memanas
(memberondong diri
dengan timah panas).


Pelihatan Busuk

bilamana kau bercermin, tubuhmu gersang.
apabila kau mengguyur-guyurnya dengan air
—pada cermin yang memantulkan rupamu itu.
dedaunan kian berubah coklat tua, berguguran
: di kulit kepalamu.


Menutup Pintu

kucing duduk tegak di ambang pintu
putih bulunya genangan air keruh.

kucing duduk tegak tajam di mataku
di ambang pintu terang remang cahaya lampu.

terbelalak matanya seribu bahasa
kucing menghilang serentak putih cahaya.


Penulis

  • Adam Alfarraby

    lahir di Jakarta, pada 3 November. Ia sedang menempuh pendidikan di Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.


Bagikan Postingan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga