
Ihwal Membual
Ghina Salsabila
Idealisme tewas, tergeletak di hadapan perut lapar dan otak buntu. Masih kau berkilah bahwa ia hanya mati suri dan akan bangun dengan sajen sebatang samsu?
Idemu sempit, perutmu menjerit, pikiranmu morat-marit. Mereka kalah laju dan kalah gesit dibandingkan bisik-bisik yang tercatat dalam baris-baris kebijakan—nol kebajikan—seratus kebajingan.
Suaramu senada dengan kicauan emprit. Sekarat. Habis-habisan dikeroyok elang atas perintah pawang yang terganggu akan patukmu pada sebiji padi di satu sore menjelang panen raya.
Aksimu serupa kokok ayam jantan pertama pada tengah malam buta, terjerit karena sorot cahaya lampu yang sebenarnya hanya tipu daya.
Idealisme seperti itu hanya menjelma menjadi egoisme sengak, wajahmu menggertak, kakimu masih payah merangkak. Tubuhmu tak ubahnya batang kayu lapuk, masih pula percaya diri menggaungkan suara-suara sumbang.
Kau pulang ke alam lain. Kau berkunjung ke kampung-kampung lugu dan naif, menjaja semangat yang nyaris pegat. Orang-orang kampung menyambut gembira, kau tak ubahnya juru selamat penebar kupon diskon. Kumpulkan 10 stamp untuk mendapatkan 1x transaksi kunci surga.
Dikerubungi orang-orang gembira, kau menari dalam lakon sandiwara. Egomu menyeret perut dan otakmu ke dalam jurang.
Marabahan, Mei 2026
Trafo Listrik
Irma Wulandary
Setiap pagi, menangis
Tak mau sekolah
Mandi air dingin
Ditemani Abi
Perkara lupa diajak jalan
Melihat trafo listrik kesukaan
Berkeliling pasar
Bukan jalan apalagi jalan
Hanya pandang tiang
Tak peduli layangan
Terpantau kagum
Bersuara degum
Memandang jenuh
Baru mau pulang
“Mah, coba lihat. Bagus ya?”





Tinggalkan Balasan