Satu Terbang, Satu Lepas; Cerpen Yulputra Noprizal

Satu Terbang, Satu Lepas; Cerpen Yulputra Noprizal


Pertama kali aku bersitatap dengannya ialah sore di hari Rabu. Waktu itu sore yang cerah walau jam sudah setengah enam. Aku sedang jaga toko dan ia jogging di jalan. Aku memerhatikan celana, sepatu olahraganya, dan kaus yang ia kenakan. Harus kuakui semuanya tampak serasi. Dan sumpah, ia terlihat cantik pada waktu itu. Di depanku ia memelankan jogging-nya, berjalan santai.

Aku tidak tahu namanya. Tidak tahu dia siapa. Namun, dalam hatiku, aku tahu seorang perempuan anak mantan guru SMA di Nagari Sangsang, yang kembang desa. Beberapa hari berikutnya, setelah bertanya pada seorang kawan, barulah kuketahui memang dialah orangnya.

Ibunya sudah lama meninggal. Ia dua bersaudara, perempuan keduanya. Namanya Sri. Ia terbilang orang berada. Ayahnya punya banyak tanah. Boleh dibilang tuan tanah.

Sewaktu bersitatap sore di hari Rabu itu, aku tidak terlalu fokus pada pandangannya kepadaku. Pikiranku masih tertuju pada Rita, pacarku sewaktu kuliah dulu di Jawa.

Perlu kuceritakan kisahku dengan Rita? Aku berpacaran dengannya hampir setengah tahun. Di Jawa, aku sering datang ke rumah Uda-ku. Dialah yang membiayai kuliahku.

Setiap hari aku kasmaran pada Rita. Suatu ketika seorang kawan akrabku di kampus hendak merebut Rita dariku. Ia menusukku dari belakang. Ia menyebarkan kabar ke orang-orang kampus bahwa aku kecanduan bokep.

Harus kuakui. Aku memang pernah nonton film seperti itu di komputer kawan akrabku. Namun, tak seharusnya ia menyebarkan kabar seperti itu pada orang-orang kampus. Kudengar juga, ia menjelek-jelekkanku tentang banyak hal.

Aku tak peduli dengan kabar yang disiarkan kawan akrabku ini. Yang kurasakan, hari-hari berikutnya hubunganku dengan Rita makin lengket.

Suatu hari, pada akhir bulan, aku datang ke rumah Uda. Aku tiba di rumahnya menjelang Magrib. Kukatakan, dengan perkataan yang terbata-bata, aku ingin menikah—tentu saja dengan Rita.

Kukatakan juga, uang SPP terpakai. Begitu juga uang untuk nge-kost. Hanya tinggal uang belanja bulanan. Tidak kukatakan, kalau uang SPP dan uang kosan terpakai karena aku bersenang-senang dengan Rita. Menghabiskan malam-malam yang asoy dengan Rita. Uda-ku kaget dan bilang, setelah melihat aku berkali-kali mengusap dada, aku telah menghamili anak orang. Katanya lagi, kawan-kawanku sudah menusukku dari belakang. ”Sebaiknya kau berkawan dengan anak-anak rohis (rohani Islam),” pungkasnya.

Di rumah Uda-ku, malamnya mataku tidak mau tidur. Ada yang terasa sakit di dadaku. Rasa-rasanya, ada yang mencabut nyawaku. Sementara kepada Rita, aku merasa harus bertanggung jawab. Karena ia telah mengikhlaskan hati dan tubuhnya untukku.

Besoknya, setelah Uda-ku berangkat kerja, istrinya mengusirku dari rumahnya. Aku yang sudah tidak punya apa-apa, merasa tidak punya siapa-siapa pula di Jawa.

Karena Uda-ku tinggal di Jawa, aku dulu memberanikan diri kuliah di Jawa. Kenyataannya, istrinya mengusirku dari rumahnya. Itu membuatku jadi labil. Entah keputusan itu kusadari atau tidak, aku memakai uang sisa bulananku untuk ongkos pulang kampung. Tak cukup, aku menjual hp-ku di sebuah konter tak jauh dari rumah Uda.

Dengan begitu tamatlah semua impianku untuk bisa jadi sarjana di universitas negeri di pulau Jawa. Dan Rita, tentu saja aku begitu sedih meninggalkannya tanpa kabar-berita.

***

Sementara pikiranku sering berkelana pada Rita yang berada di Jawa, setelah kucari tahu tentang Sri, aku datang dengan sepeda motor ke kampungnya. Aku mampir di sebuah kedai di depan rumahnya pukul sembilan malam. Di sana aku memesan soft drink. Setelah mengambil soft drink di kulkas, aku duduk di palanta kedai. Segera menyalakan rokok. Ada sebuah tempat fotokopi di kedai sebelah tempatku duduk. Seorang perempuan, benar dugaanku Sri, keluar dari tempat fotokopi tersebut.

Aku terkesiap. Pucuk di cinta ulam pun tiba rupanya, batinku. Aku dan Sri bersitatap. Aku tidak menyapa dan Sri pun tidak menyapaku. Kali ini aku kembali seperti kali kami pertama bersitatap. Pikiranku lagi-lagi melayang pada Rita di Jawa. Dan aku kehilangan “gairah” memerhatikan Sri.

Lantas, Sri menuju rumahnya yang berada di depan kedai, menyeberang jalan. Aku mengikutinya dengan pandangan.

***

Karena umurku sudah tiga puluh empat tahun, dan kuketahui pula Rita di Jawa sudah lama menikah—aku baru tahu belakangan kalau Rita sudah menikah—kudatangi rumah Sri. Aku berharap bertemu ayahnya. Kuingin melamarnya.

Aku tahu dari seorang kawan umur Sri hampir 27 tahun. Tentu saja umur segitu kalau di kampung, seorang perempuan sudah harus menikah.

Aku datang ke rumah Sri sore, sekira pukul 5, dengan sepeda motor. Kuparkir sepeda motor di pinggir jalan. Kuperhatikan sebuah mobil Avanza parkir di teras rumahnya. Aku buka pintu pagar dan segera berjalan menuju pintu rumahnya. Kuketuk pintu. Dan tak lama, pintu dibukakan.

Menyembul kepala ayah Sri.

“Pak,” kataku, sok akrab. “Ada Sri, Pak?”

Laki-laki yang sudah beruban semua kepalanya itu seperti terbingung memandang wajahku.

“Kamu yang tinggal di Dadok kan. Saya kenal kamu. Kamu keponakan Syahril kan. Orang kita yang kaya di Jakarta itu,” katanya.

Ia berjalan ke kursi ruang tamu dan mengajakku duduk dengan begitu ramah.

Aku pun duduk dengan cara yang kubuat sesopan mungkin. Setelah duduk, kataku, ”Dulu kaya, Pak. Sekitar tahun 90-an. Sekarang Mamak-ku (paman) itu sudah meninggal, Pak.”

“Kamu terlambat. Padahal Sri sering menanyakan perihal dirimu. Ia menaruh hati padamu. Sekarang Sri sedang di Padang. Pra-wedding.”

Sejenak aku termenung. Rasanya dunia mau runtuh.

Ternyata laki-laki di depanku berbicara to the point. Jangan-jangan dialah yang menyuruh Sri tebar pesona di depanku sore itu.

Aku kemudian tergugu-gugu. Badanku seperti mati. Apakah aku tidak gerak cepat. Dan, pikiranku yang tertawan pada Rita yang di Jawa selama ini segera kusalahkan—setelah tahu Rita sudah menikah, barulah aku berpikir serius tentang Sri.

“Kalau begitu saya pulang saja, Pak,” kataku.

Tiba di teras rumah Sri aku merasakan ada yang berkeping di hatiku. Entah itu berkeping karena aku tidak mungkin lagi dengan Rita karena ia sudah menikah. Entah itu berkeping karena mendengar kata ayah Sri kalau Sri sedang pra-wedding di Padang. Atau mungkin, kedua-duanya.


Penulis



Bagikan Postingan ini


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lebih Banyak Postingan