
Tuhan anu, kau maha tahu
Aamiin
27 Mei 2026
Tuhan Mari Bersulang
“Tuhan yang Maha Anu, mari kita bersulang anggur dari cawan semu”
Begitu ucap yang maha tolol dengan mulut yang masih berbau alkohol sambil memegang botol
Yang Maha Anu malah tertawa
Mendengar gumam yang maha tolol di malam buta
“Tak perlu meminum anggur untuk bertemu, kau sudah mabuk dengan isi kepala.
Padahal Aku selalu ada dalam tangismu, payahmu, sakitmu, sesalmu, dan se-se… yang menghantuimu”
Sang maha tolol semakin berceloteh dengan umpatan konyol
Sebelum terdiam karena ucapan Sang Maha Anu:
“Tapi kau ke mana setelah kau bahagia? Apa Aku tidak diundang di dalamnya?”
12 Juli 2026
Antara Pahit dan Manis
Paru mengembang dan mengempis
Air muka membanjiri pelipis
Dari caci yang menggerogoti dengan sadis
Hingga sorot yang menilik najis dan sinis
Aku mengambil tanda koma ‘tuk menjeda
Mengisi rongga dada dengan oksigen asa
Mencoba meminum secangkir luka
Yang rasanya amat menyiksa
Kini banyak bibir yang melukis senyum
Melihat raga doa ibu yang naik podium
Mencium sekuntum mimpi berbau harum
Menatap dengan kagum
Mereka menganggap semua semudah mengucap “Kun”
Padahal jalannya membuatku meminta ampun
Dari semak lelah yang rimbun
Hingga persepsi yang melamun
23 Juni 2026
Fatwa Penentang
Wahai seorang pembuat langit tak bertiang
Wahai engkau kerap memandang
Lihat segumpal darah yang mengasah pedang
Lantas diacungkan untuk menentang
Ia bersumpah akan membelah penderitaan menjadi tanah
Dengan pedang resah
Agar kau tahu seberapa dahsyat pedang ibadah
Apakah Dia tidak menyaksikannya?
Sang Maha Anu menjawab:
“Tapi pedangmu tidak terlalu tajam ‘tuk menggores tubuh-Ku.
Andai kau mau terima sedikit sayatan tangan-Ku
Maka kau akan rasakan betapa nikmat rasa cinta itu
Teruslah asah pedangmu
Sampai kau tahu bahwa pedang itu semu”
3 Agustus 2026
Sebuah Tanya
Di sudut doa, sebongkah pesan menggema
Mengguncang altar angkasa
Perihal jodoh di umur dua puluh lima:
Apakah seorang wanita cantik jelita,
Atau malah berselimut tanah pembentuk raga?
3 Agustus 2026
Catatan Kuratorial:
Adalah benar rupanya nubuat Barthes bahwa pengarang mati setelah karya tercipta. Metafora yang disajikan pemuisi masih dalam batas aman, tak juga terlalu klise. Di beberapa frasa cukup unik, tapi terlihat berbahaya jika nanti pemuisi tidak lantas menahan diri pada puisi-puisi lain yang ditulisnya di kemudian hari. Ia benar-benar akan mati setelah karyanya tercipta.
Dalam puisi-puisinya kali ini terasa sekali penulisnya sedang berada dalam fase jatuh cinta. Diksi yang dipilih juga melukiskan dengan jelas rasa cinta mendalam itu. Meski, pemuisi berusaha menyiratkan maknanya dalam kata-kata sufistik.
Misalnya, pada puisi berjudul Tuhan Mari Bersulang, pemuisi menulis:
/tapi kau ke mana setelah kau bahagia? apa aku tidak diundang di dalamnya?/
Baris terakhir puisi tersebut terlihat adalah petikan dialog dari sang maha anu. Di sisi yang lain justru memberi penegasan kalau sebetulnya yang dipertanyakan oleh pemuisi adalah tokoh lain. Penyebutan tentang Tuhan pada baris-baris sebelumnya, termasuk saat mengajak /bersulang anggur dari cawan semu/ hanyalah sebuah bentuk pernyataan retorik. Pemuisi yang sudah tahu kelemahannya seolah hanya ingin bertanya bagaimana cara ia mendekatkan diri agar dirinya /diundang di dalamnya/ dan selanjutnya menemukan kebahagian cinta yang diimpikan pemuisi.
Pemuisi juga terlalu sering memaksakan pemilihan diksi untuk membentuk rima akhir baris a-a-a-a. Hal tersebut tidak salah, tapi sekali lagi penulis-pemuisi harus bisa menahan diri, memberi batas agar tak memaksakan metafora yang justru mengganggu estetika dan juga koherensi antar baris puisi.
Terlepas dari itu, pemuisi sudah memiliki dasar estetika yang baik, meski terkadang terlalu menjelaskan suasana personalnya ke dalam puisi.
Penulis
Bagikan Postingan ini






Tinggalkan Balasan