Fragmen Basah dan Puisi-Puisi Lainnya

Fragmen Basah dan Puisi-Puisi Lainnya

Pusarmu Telaga Basah

Pada tubuhmu musim mencair
suatu waktu aku menziarahi tubuhmu
bersama burung-burung dengan tuturan murung.

Di tubuhmu kami menyanyikan syair-syair lalu
dengan nada muram.

Musim mencair, pusaranmu menjadi telaga basah.
Mengenangi bahasa dan peristiwa;
yang murung dan muram.

Bersama burung-burung
kami minum di telaga pusarmu.
Airnya dingin Bukit Barisan,
rasanya payau Teluk Cengal.




Mantra Kopi Jadi Tambang

Sebongkah batu hitam ditumpuk
membentuk susunan perahu.
Berharap dapat menyeberangi sungai
bersama mitos emas pada catatan pelancong.
Keruk tubuh nining di bukit berbaris
tindih kulit puyang di meja kayu besi.

Sebongkah batu hitam
muatan banjir dan longsor
di rumah terseret berarus.

Sebongkah batu hitam
mantra kopi jadi tambang
tumbang telentang cagak rumah.




Makam Alarm Alam

Seperti apa kita akan berbicara?
Setelah meletakan batu nisan di bentang langit,
menyusun mayat-mayat capung dan kupu-kupu.
Setelah kita tak sempat berbicara akan kematian,
membubuhkan bibirmu di setiap makam alarm alam.
Kita pernah menyusun jutaan kematian manusia,
di bentang langit yang merah api;
menuju jalan tanpa nama.

Masihkah kita akan berbicara?
Setelah kematian dan petaka,
hanya tangan menadah—tegak di tiang langit.
Menunggu tuah jatuh,
semua berangkat ke langit.




Fragmen Basah
untuk T. Wijaya

Setelah menyusun fragmen basah,
embun yang kau ciptakan di etalase berkaca buram;
menyisakan sisa tangis seribu bulan.
Dari sabuk bintang orion, seribu musim tanam
kau sematkan umeh di bentang langit.
Setiap musim tanam kau jelajah ke awan muram
setelah kabut asap, metronome tanah basah
tahun-tahun penghabisan rawa ke liang.
Bersama dusun-dusun beku, di freezer T. Wijaya
yang terus membekukan peristiwa di proposal.


Penulis



Bagikan Postingan ini


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lebih Banyak Postingan