Tuhan yang Maha Hampa; Cerpen Arif Kurniawan

Tuhan yang Maha Hampa; Cerpen Arif Kurniawan

UDARA sel perlahan dingin dan aroma kapur kian menyengat saat aku memandangi cahaya matahari terakhir yang menyelinap dari sela jeruji ventilasi. Tidak ada lagi amarah. Tidak ada lagi tawar-menawar. Hanya ruang kosong dalam dadaku—penerimaan yang sunyi dan datar. Aku merasa telah mati sebelum eksekusi malam nanti.

Terpidana lain mungkin akan menghabiskan jam-jam ini dengan menyantap hidangan favoritnya, atau berbincang-bincang dengan orang terdekat, atau mengakui dosa dan memohon ampun di lutut seorang pendeta. Tapi aku tidak. Entah kenapa, aku merasa itu tidak ada maknanya lagi.

Saat merebahkan badan ke lantai—sekarang senja telah seutuhnya sirna—aku baru menyadari ada sesuatu di bawah ranjang tidurku. Majalah lama tanpa sampul yang mulai menguning dan menempel di papan. Walau tidak digerogoti rayap, banyak halaman sudah lecek dan sulit dibaca. Setelah kulihat sekilas, majalah itu membahas hal-hal seputar budaya, seni, dan sastra. Topik yang selama ini kurang aku minati. Namun, karena tengah malam masih lama, aku memutuskan membacanya.

Dari sekian artikel, ada satu bagian yang anehnya menyita perhatianku tentang hilangnya seorang sineas jenius, auteur asal Chile angkatan 80-an yang dihormati, bernama Ulises Parra. Tertulis, walau tidak banyak, film-filmnya sangat brilian. Namun, pada satu waktu, ia menghilang bak ditelan udara, bersamaan dengan semua karyanya, setelah proses syuting film yang digadangkan akan menjadi mahakarya sekaligus film terakhirnya.

Walau banyak baris-baris yang membahas alur ceritanya telah hilang karena lecek dan tertutup jamur, itu semua cukup memikatku.


FILM-FILM HEBAT YANG TERLUPAKAN
KARYA SI JEN——————SES PARRA

Membahas film-film tengah malam terbaik, rasanya tidak lengkap tanpa menyertakan karya Ulises Parra. Walau, sayangnya, dirinya kini lenyap entah di mana, dan kehilangan itu anehnya ikut menelan eksistensi karya-karyanya.

Los Vientos del Mañana (1974) adalah film debut yang langsung melambungkan popularitasnya. Berkisah tentang seorang kolektor video yang menemukan—————itu semua adalah kematian nyata. Antagonis kita (sepanjang film tidak disebutkan namanya———kapan dan di mana setiap tragedi terjadi, sehingga dia dapat mencegahnya. Selain ini, tidak ada lagi yang dapat diingat dari karya in————berapa versi bajakannya beredar di festival-festival film mahasiswa tahun 90-an.

———del Dolor (19—— merupakan film terbaik Ulises Parra dalam hal desain kostum. Bercer————xandro perlahan kehilangan orang terdekatnya. Mereka satu-persatu ditemukan gantung diri. Sepanjang cerita, penonton diaja———petunjuk demi petunjuk yang Alexandro temukan. Sampai akhirnya, diketahui ada entitas misterius (kostum karakter ini meraih banyak pujian) yang menerornya. Berbagai cara dilakukan oleh————karena sudah merasa buntu, Alexandro memilih untuk mengakhiri hidupnya pula. Namun usahanya selalu gagal. Terungkap kalau motif dari entitas itu———paruh akhir film penonton disuguhkan keruntuhan jiwa Alexandro. Film ditutup dengan adegan tokoh utama terbaring di rumah sakit jiwa dalam kondisi semi-vegetatif. Matanya memenuhi frame terakhir dan memantulkan sosok yang menghidupkan mimpi buruknya berulang kali.

El Hijo de los Sueños————semi-fantasi Ulises Parra yang menyayat hati. Tentang seorang anak laki-laki berusi———hun, bernama Pedro. Di Santa Teresa, kota kelahirannya, dia menjalani hari-harinya dengan berkhayal sebagai Kesatria Pedang Terkutuk. Tidak hanya dirinya, tokoh lain juga memiliki——————diri di dunia mimpi Pedro, seperti Sang Raja (ayah Pedro), para Pemanah (satuan polisi), dan Kelompok Petani (teman-teman Pedro). Di pertengahan film, muncul tokoh Fantasma, sosok penguasa kegelapan yang bersembunyi dalam bayangan. Hanya Pedro yang dapat melihatnya. Semakin sering Fantasma—————menandakan khayalan Pedro kian menyita kehidupan sehari-harinya. Sampai akhirnya, Pedro benar-benar larut dalam dunia mimpinya. Lantas———————semua film langsung bernuansa surealis. Terungkap pula bahwa Fantasma adalah Sang Raja, ayah Pedro sendiri yang setiap malam datang ke kamarnya untuk—————dak ada yang tahu selain dirinya. Sehingga, ketika Pedro menikam Fantasma, tokoh mimpi lain memusuhinya karena telah membunuh Sang Raja. Klimaksnya, Pedro tetap mencoba melawan walau telah dikepung Pemanah dan Kelompok Petani. Pada mom———narasi kembali ke kenyataan, dan penonton melihat Pedro terkapar dengan lubang di dadanya, pipa logam berkarat (untuk membunuh ayahnya) menggelinding di atas darah yang mulai mengalir. Pedro—————di jalanan, ditinggalkan baik di dunia nyata maupun mimpi oleh orang-orang yang dia pikir mencintainya.

—————ños menjadi film Ulises Parra paling laris. Kisah Pedro begitu kuat dan sarat emosi, sehingga mengejutkan penonton yang————ini hanya film tentang anak nakal yang tumbuh di tengah masyarakat keras. Penghargaan demi penghargaan berhasil diraihnya, sehingga film-film selanjutnya———


Selepas membacanya, aku sepenuhnya paham kemalangan Pedro. Aku dan Pedro sama: Kami membunuh ayah kami sendiri. Tapi, apakah kami benar-benar punya pilihan? Orang-orang tidak dapat mengerti, atau mungkin menolak menerima, fakta kalau orang tua juga menyimpan sisi kelam di balik topengnya. Walau sejujur apa pun seorang korban—yang sesungguhnya—dalam bersaksi, bahkan ketika semua barang bukti sebening kristal, kata “pembelaan” tetaplah terbaca “pembunuhan” dalam kasus paternal. Tapi tak apa, sekarang aku tidak peduli lagi. Semua sudah terjadi dan diputuskan.

Lanjut ke halaman-halaman berikutnya, membahas keunikan Ulises Parra selama proses syuting berlangsung. Selain tidak pernah menggunakan pemeran yang sama, ia terkenal selalu meminta para pemerannya untuk menjaga semua perasaan muram, memilukan, dan penderitaan saat pengambilan gambar. Alasannya, ia percaya hanya dengan cara itu luapan emosi akan lebih terasa dan benar-benar terlukiskan di layar lebar. Salah satu yang paling kontroversial adalah skandal pengambilan gambar adegan pemerkosaan. Ulises Parra dan aktornya merahasiakan hal tersebut dari si aktris, sehingga ketika adegan itu diambil, ekspresi, air mata, jeritan, cakaran si aktris tidaklah dibuat-buat. Semuanya nyata. Walau tidak terjadi penetrasi, si aktris merasa telah dilecehkan dan direnggut martabatnya. Selepas proses syuting, si aktris memutuskan pensiun dini.

Aku tidak menuntaskan bagian ini. Jujur, selain aku tidak paham hal-hal teknis dalam sinematografi, aku merasa mual saat membacanya. Karena itu, aku kembali ke bagian Pedro dan meresapi kisahnya yang tersisa berulang kali. Baru setelah merasa puas dan hafal setiap detailnya, aku melanjutkan ke bagian akhir tentang misteri hilangnya Ulises Parra dan karya terakhirnya.


LENYAPNYA ULISES PARRA

Pada tahun 1993 Ulises Parra dikabarkan tengah menggarap film berjudul Cuentos de Amor de Locura y de Muerte, ketika dia menghilang. Mulanya————namun, tak seorang pun menyadari keanehan terhadap Ulises Parra, hingga pemeran dan kru film kembali ke rutinitas normal. Bahkan, mereka tidak mengingat pernah perg—————untuk mengerjakan film ini. Sampai ketika beberapa jurnalis yang hendak menanyakan perkembangan proyek tersebut dikejutkan oleh fakta kalau Ulises Parra adalah satu-satunya yang belum kembali. Sang auteur telah menghilang. Pen—————lakukan di mana-mana. Namun, cerita itu juga perlahan sirna. Misteri ini terkubur seiring———————serta bukti-bukti keberadaan Ulises Parra yang tak dapat dijelaskan.

Hanya sedikit detail yang—————teri ini mungkin akan selamanya tak terpecahkan, karena dari waktu ke waktu, semakin sedikit pula orang yang mengingat—————berapa orang yang memimpin pencariannya atau aficionado Ulisesian yang berjuang menjaga sosok sang auteur tetap hidup pada tahun 1995-1996, satu demi satu membalas————ngan permohonan maaf karena mereka tidak lagi mengingat pria ini.

—————hanyalah spekulasi kalau yang sebenarnya digarap oleh Ulises Parra bukan karya fiksi belaka. Sempat beredar desas-desus kalau ide awal Cuentos de Amor de Locura y de Muerte berawal————seorang penyair bernama Ignacio Quiroga yang melahirkan alegori———gurun terpencil yang dihuni oleh orang-orang buta, menyembah entitas yang diyakini sebagai juru selamat, walau pada nyatanya—————kegilaan mereka sendiri.

Hanya saja—————baru, sepanjang tahun 1990, Ulises Parra melakukan survey lapangan untuk lokasi pengambilan gambar filmnya hingga ke daerah Santa Fe. Tidak banyak—————kecuali satu hal. Ulises Parra berambisi mencari bukit yang sempurna untuk adegan kunci filmnya. Yakni ketika—————lu sosok agung turun untuk merampas semua pikiran dan kenangan makhluk hidup, yang disebutnya sebagai “Tuhan Yang Maha Hampa”. Sosok ini akan membebaskan manusia dari———gga tercipta kebahagiaan yang sesungguhnya.

Aneh memang, ba—————bagai ditelan Bumi. Kenangan dan jejak yang tersisa———dan dihormati ini hanyalah bukti-bukti dangkal atas semua filmnya yang mengagumkan. Seorang pria yang menjadi subjek tesis, artikel, pujian, bahkan pemujaan lewat pikiran kreatifnya ini telah terhapus dari ingatan bersama dengan karya-karya sepanjang hidupnya. Pertanyaannya adala———————hapus keberadaan seseorang, tetapi juga memanipulasi sejarah dan ingatan orang-orang? Jika bertolak dari puisi karya penyair yang sama, ini adalah kuasa entitas—


Decit engsel pintu sel membuatku terkesiap. Anggukan si sipir mengisyaratkan kalau ini sudah waktunya. Aku bangkit. Sebelum pergi, dengan hati-hati aku melipat sudut halaman tempat bacaanku terputus, lalu meninggalkannya di atas ranjang. Mungkin akan berguna untuk penghuni selanjutnya mengisi waktu. Di lain sisi, tak ada gunanya kubawa.

Saat itu malam telah memenuh ruang. Kuning cahaya lampu tampak bagai bayi-bayi bulan yang bergelantungan di tiang-tiang lapangan eksekusi. Aroma hujan menyeruak—mungkin akan deras membasahi pagi nanti. Para saksi duduk dengan setelan rapi. Beberapa di antaranya kukenali. Ada yang menatapku dengan pandangan jijik, ada yang mencoba meludahiku, ada juga yang menangis entah untuk siapa—aku atau ayah? Itu semua, dengan sembilan moncong senapan regu tembak yang siap membidikku, menjadi pemandangan terakhir yang kunikmati. Seseorang lalu menutup mataku dengan kain hitam sambil bertanya, apakah ada kata-kata terakhir. Aku menggeleng.

Mula-mula aku telah merelakan semuanya, tapi kemudian, dalam kegelapan itu, tiba-tiba terbit keinginan untuk menonton semua film yang tadi kubaca. Sekian pertanyaan turut membombardir sebelum peluru senapan bersarang di jantungku: Siapa yang menaruh majalah itu? Apa yang sebenarnya terjadi pada Ulises Parra? Bagaimana kehidupannya di luar layar bioskop? Benarkah sekarang film-filmnya tak lagi bisa ditonton dan orang-orang telah lupa seutuhnya? Dan—padahal aku tidak pernah peduli pada semua yang berkaitan dengan agama—akankah aku melangkah ke akhirat setelah ini, bertemu sosok yang Ulises Parra sebut “Tuhan Yang Maha Hampa”?

Seketika peluru berdesing dan semua dingin bisu.


Penulis



Bagikan Postingan ini


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lebih Banyak Postingan